Tadi malam, tepatnya pukul 00:28, sebenarnya sudah tanggal 15 tetapi suasana tanggal 14 masih gue rasakan.Semenjak 3,5 tahun yang lalu, tanggal 14 sudah menjadi tanggal yang spesial buat gue. Pukul 00:28 itu, teman gue mengajak makan di warung kopi di depan kos gue. Tempat itu di kenal dengan nama warung Jerry. Nama pemilik warung itu adalah Jajang Rachmat Hidayat, seorang sarjana S1 informatika dari salah satu perguruan tinggi di bandung. Dulu, dia suka dipanggil dengan inisialnya saja: J. R. Kemudian, orang2 mulai memanggil “Jer! Jer!” dan ada juga yang memanggil “Aa’ Jer!” (Aa’ = Panggilan kakak untuk orang sunda). Akibatnya, lama-kelamaan, orang2 mengira dia bernama Ajer atau Jerry. Nasib lah. Nama itu jadi trademark dia.
Jerry sudah membuka kios di situ semenjak (kalau tidak salah) tahun 1998. Tahun 2004, ia menjadi korban penggusuran karena tanah si situ ingin dibangun. Gosipnya sih waktu itu mau dibangun pom-bensin. Ada juga yang bilang kalau itu ingin di bangun kosan atau apartemen. Tapi, sampai kemarin2, pembangunan itu tak urung di mulai. Baru tadi siang gue memperhatikan bahwa di situ ada plank yang menandakan bahwa tanah itu akan dibangun rumah makan. Karena ketidakjelasan itu, beberapa bulan yang lalu, Jerry kembali lagi ke situ. Kembali berjualan indomie, kopi, dan sebagainya. Meskipun warung itu lebih sering dijaga oleh saudara2nya (Ujang, Iin, dsb), warung itu tetap dikenal dengan nama warung Jerry.
Teman gue yang mengajak gue ke sana malam itu bernama Avicenna. Ayahnya yang memberi nama itu, diambil dari nama seorang dokter dan filsuf terkemuka di dunia islam: Ibnu Sina. Di Eropa, Ibnu Sina memang lebih dikenal dengan nama Avicenna.
Sesuai dengan ruh ayahnya ketika memberi nama itu, Avi telah memiliki syarat utama untuk menjadi filsuf: Doyan berpikir dan doyan melontarkan berbagai pertanyaan. Avi berpengetahuan luas. Dia mudah sekali menemukan berbagai pertentangan yang mungkin terhadap suatu ide. Dengan latar belakang seperti itu, Avi telah menjadi tandem diskusi gue selama 2,5 tahun. Pola pikir kami sebenarnya sangat berbeda. Jika Avi suka memulai dengan pertentangan2, maka gue labih suka berpikir (sok2) seperti saintis dan matematikawan: Reduksionis. Segala sesuatu berusaha gue reduksi dalam hukum2 fundamental. Kadang2 gue gegabah juga sih. Biasanya, kegegabahan itu gue sadari setelah ngobrol2.
Unik. Karena perbedaan kami berdua justru membuat kami cocok kalau berdiskusi. Sudah terdapat berbagai tempat yang kami singgahi untuk berdiskusi: Warung Indomie Tubagus, Kosan Tubagus, Warung Indomie Ciumbuleuit, Kosan Ciumbuleuit, kafe QB, kampus, rumah, “kantor”, sampai Mexicana.
Malam itu, ketika ingin kembali ke kos, Avi melihat ke langit dan bilang, “Wisnu! Lihat, ada lingkaran besar mengelilingi bulan. Itu apa ya?” Gue memperhatikan langit. Bulan purnama. Sangat terang karena langit cerah. Jauh lebih terang daripada malam sebelumnya. Gue perhatikan lingkaran itu dengan seksama sampai akhirnya gue bilang, “Vi, itu pelangi! Lihat warnanya: Merah, Jingga, Kuning, hijau, biru, dan ungu terlihat samar-samar.”
Lucu. Baru pertama kali gue melihat pelangi di malam hari (atau mungkin baru sadar kalau yang gue lihat itu pelangi). Pelangi, buat gue, adalah simbol “Harmony in diversity”. Ya. Seperti landasan tanah air kita: “Bhineka Tunggal Ika”. Sayangnya, di tanah air ini, gue sering melihat keharmonisan itu justru runtuh karena perbedaan. “Darah si anu halal ditumpahkan. Dia murtad.”, “Dia non-pribumi. Perkosa saja.”, “Jangan bergaul sama orang (Jawa, Batak, Sunda, Palembang, Acheh, dsb)”, dan sebagainya.
Pelangi di malam hari adalah sesuatu yang sangat berbeda buat gue. Seakan, alam mengingatkan, “Nu! Perbedaan itu ada loh. Lihat gue sekarang! Perbedaan itu indah, bukan?”
Masih dalam suasana tanggal 14… dimana gue merasakan bahwa perbedaan itu indah sekaligus menyakitkan. Gue nggak bisa berkata-kata lagi tentang hal ini.
Jadi ingat. Jerry pernah curhat tentang istrinya sama gue. Istrinya masih muda. Umur mereka berbeda cukup jauh dan hal itu menjadi masalah. Dalam beberapa hal, Jerry cukup kebingungan menghadapi istrinya itu. Gue cuma tersenyum lebar dan sempat bilang, “Ah… beda itu mah biasa!”
Tapi dalam hati gue pikir… emang kadang2 perbedaan itu jadi sumber masalah.
[ini juga gue post di http://wisnuops.blogspot.com dan http://www.geocities.com/wisnuops/writings ]