Filed under: The way I see it
Ada paragraf lucu deh. Gue dapet dari internet:
Lisa Shea (http://www.lisashea.com/hobbies/art/general.html)
Di situ, dia lagi ngebahas tentang Da Vinci Code.
“I’m really happy the book has gotten people to think - but it concerns me that people then come to me and say “OK tell me the truth!” These people are now sure that the church has been lying to them and they want to blindly believe another person? I have a LARGE list of source reference books. Go read them! Exercise your brain! Figure out for YOURSELF what is true and what is not. If all you do is sit back and say “OK I will believe someone else now”, then you’ve missed a main point of my website. The point is that people are free when they learn for themselves what to believe.”
Iya. Lucu euy. Tapi.. Hayoo…. jangan2, kita adalah salah satu orang yang kayak gitu. Setelah denger (atau baca) sesuatu… yakin kalo ada yang salah… terus kita malah percaya buta sama orang lain. Hihihi… kayaknya lucu sih. Tapi, sebenarnya ini mengkhawatirkan. Di era informasi ini, kita harus bisa kritis, Bung!
Kalo nggak kritis, gampang banget ditipu sama berbagai macam teori konspirasi, hoax, dan macem2. Jangankan kalo lo nggak kritis. Lo kritis aja, masih bisa ketipu.
===Air HADO===
Seminggu yang lalu, gue nemenin temen cewek gue ke salon. Dia 1 jam di sana. Gue mau nungguin karena dia ngasih buku bacaan. Tentang Air HADO. Yang ngarang namanya Emoto. Buku itu dicetak oleh MQ (Managemen Qolbu) production. Buku ini bukan buku tentang agama, tapi yang ngasih pengantar itu Abdulah Gymnasiar (Aa Gym).
Waktu memulai membaca buku ini, gue agak2 curiga karena si Emoto ini tidak memiliki latar belakang sains. Tapi, berhubung dia mengambil liberal art (yang diterjemahkan secara tidak tepat sebagai “seni bebas”), gue pikir, kayaknya ni orang nggak akan ngomong sembarangan.
Jadi gini. Menurut Emoto, air akan mendengarkan perkataan2 manusia. Dia melakukan eksperimen sebagai berikut:
- Ambil air suling, letakkan pada botol.
- Tuliskan kata2 positif pada botol tersebut. Misalnya, “Love and Thank you”, “Arigato”, dan sebagainya.
- Bekukan air tersebut sampai mencapai suhu −25 °C (−13 °F).
- Foto hasilnya.
Menurut Emoto.. kristal yang terfoto itu hasilnya akan sangat bagus. Begitu juga kalau air itu didengarkan dengan lagu2 klasik. Atau… didoakan. Tapi, menurut Emoto juga, air tidak akan menunjukkan kristalnya ketika ia dituliskan kata2 negatif seperti “bego lu” atau yang lain. Ia juga tidak membentuk kristal jika terkena radiasi gelombang elektromagnet dari TV, HP, dsb. Lagu2 heavy metal juga akan membuat air ini tidak mengkristal.
Saat gue baca buku itu. Gue belum menemukan kesalahan dari penelitiannya. Berhubung gue percaya sama data2 yang dia berikan, gue cuma bisa bilang, “itu mungkin aja bener. Tapi, belum ada hipotesis yang bisa menjelaskan kenapa itu semua terjadi”. Dua kejadian yang terjadi secara berurutan belum tentu menunjukkan hubungan sebab-akibat. Post hoc non est propter hoc. Jadi, menurut gue, perlu ada general theory yang bisa menjelaskan kejadian2 itu. Didorong oleh rasa ingin tahu gue ini, gue mencoba browsing di internet. Gue pikir, mungkin ada beberapa saintis yang udah ikutan meneliti ini dan menawarkan beberapa hipotesis.
Search di google menuntun gue ke Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Masaru_Emoto) dan JREF (James Randi Education Foundation). Di sana gue ketawa habis2an setelah tau bahwa Emoto tidak melakukan double-blind saat meneliti. Jadi, intinya, DATANYA PUN SALAH. Double-blind adalah salah satu metode untuk mereduksi bias saat observasi. Tanpa double-blind, seorang observer cenderung hanya mengambil data yang sesuai dengan hipotesisnya… atau kepercayaannya. Terlebih, JREF menantang Emoto SATU JUTA DOLAR jika bisa membuktikan hipotesisnya itu dengan menggunakan double-blind. Ternyata… dia belum bisa tuh. Sebelumnya, gue pernah denger sih tentang JREF ini dari seorang teman. JREF ini emang berjanji memberikan $1000000 kepada siapapun yang bisa menjelaskan kejadian2 supranatural ke ranah sains. Belum ada yang berhasil tuh. Ada yang merasa tertantang? Di Indonesia kan banyak tuh film2 “penampakan”
=========
Yach… begitu lah. Di era informasi seperti sekarang ini, kita mudah mengakses berbagai informasi. Tapi, sayangnya, buanyak banget yang ngawur. Ada yang tidak disengaja (karena terlalu cepat melompat ke kesimpulan tertentu tanpa menggunakan metode penelitian yang benar)… namun, banyak juga yang disengaja karena keuntungan yang bisa didapat dari penyebaran informasi itu. Misalnya: uang. Atau, di era demokrasi ini: Suara politik. Menjatuhkan lawan, dan sebagainya. Kalau nggak kritis. Kita bisa tertipu. Termasuk orang sekaliber Aa Gym sekalipun.
Lihat aja Da Vinci Code. Teori2nya mungkin ada yang bener. Tapi, tentu saja itu masih berlatar belakang hipotesis yang belum terbukti secara ilmiah. Namun, marketingnya jago banget. Dia bikin buku fiksi. Namun, dia bilang kalau semua latar belakang buku itu berdasarkan keadaan yang sesungguhnya. Gila. Emangnya yang neliti itu cuma si Dan Brown doang? Banyak kali. Cuma, mereka nggak melakukan hal yang sama dengan Dan Brown. Jadi, nggak bisa dapet jutaan dolar deh.
Salam kritis!