I am what I write


Critical Thinking
August 8, 2006, 9:38 pm
Filed under: The way I see it

Ada paragraf lucu deh. Gue dapet dari internet:
Lisa Shea (http://www.lisashea.com/hobbies/art/general.html)

Di situ, dia lagi ngebahas tentang Da Vinci Code.

“I’m really happy the book has gotten people to think - but it concerns me that people then come to me and say “OK tell me the truth!” These people are now sure that the church has been lying to them and they want to blindly believe another person? I have a LARGE list of source reference books. Go read them! Exercise your brain! Figure out for YOURSELF what is true and what is not. If all you do is sit back and say “OK I will believe someone else now”, then you’ve missed a main point of my website. The point is that people are free when they learn for themselves what to believe.”

Iya. Lucu euy. Tapi.. Hayoo…. jangan2, kita adalah salah satu orang yang kayak gitu. Setelah denger (atau baca) sesuatu… yakin kalo ada yang salah… terus kita malah percaya buta sama orang lain. Hihihi… kayaknya lucu sih. Tapi, sebenarnya ini mengkhawatirkan. Di era informasi ini, kita harus bisa kritis, Bung!

Kalo nggak kritis, gampang banget ditipu sama berbagai macam teori konspirasi, hoax, dan macem2. Jangankan kalo lo nggak kritis. Lo kritis aja, masih bisa ketipu.

===Air HADO===

Seminggu yang lalu, gue nemenin temen cewek gue ke salon. Dia 1 jam di sana. Gue mau nungguin karena dia ngasih buku bacaan. Tentang Air HADO. Yang ngarang namanya Emoto. Buku itu dicetak oleh MQ (Managemen Qolbu) production. Buku ini bukan buku tentang agama, tapi yang ngasih pengantar itu Abdulah Gymnasiar (Aa Gym).

Waktu memulai membaca buku ini, gue agak2 curiga karena si Emoto ini tidak memiliki latar belakang sains. Tapi, berhubung dia mengambil liberal art (yang diterjemahkan secara tidak tepat sebagai “seni bebas”), gue pikir, kayaknya ni orang nggak akan ngomong sembarangan.

Jadi gini. Menurut Emoto, air akan mendengarkan perkataan2 manusia. Dia melakukan eksperimen sebagai berikut:
- Ambil air suling, letakkan pada botol.
- Tuliskan kata2 positif pada botol tersebut. Misalnya, “Love and Thank you”, “Arigato”, dan sebagainya.
- Bekukan air tersebut sampai mencapai suhu −25 °C (−13 °F).
- Foto hasilnya.

Menurut Emoto.. kristal yang terfoto itu hasilnya akan sangat bagus. Begitu juga kalau air itu didengarkan dengan lagu2 klasik. Atau… didoakan. Tapi, menurut Emoto juga, air tidak akan menunjukkan kristalnya ketika ia dituliskan kata2 negatif seperti “bego lu” atau yang lain. Ia juga tidak membentuk kristal jika terkena radiasi gelombang elektromagnet dari TV, HP, dsb. Lagu2 heavy metal juga akan membuat air ini tidak mengkristal.

Saat gue baca buku itu. Gue belum menemukan kesalahan dari penelitiannya. Berhubung gue percaya sama data2 yang dia berikan, gue cuma bisa bilang, “itu mungkin aja bener. Tapi, belum ada hipotesis yang bisa menjelaskan kenapa itu semua terjadi”. Dua kejadian yang terjadi secara berurutan belum tentu menunjukkan hubungan sebab-akibat. Post hoc non est propter hoc. Jadi, menurut gue, perlu ada general theory yang bisa menjelaskan kejadian2 itu. Didorong oleh rasa ingin tahu gue ini, gue mencoba browsing di internet. Gue pikir, mungkin ada beberapa saintis yang udah ikutan meneliti ini dan menawarkan beberapa hipotesis.

Search di google menuntun gue ke Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Masaru_Emoto) dan JREF (James Randi Education Foundation). Di sana gue ketawa habis2an setelah tau bahwa Emoto tidak melakukan double-blind saat meneliti. Jadi, intinya, DATANYA PUN SALAH. Double-blind adalah salah satu metode untuk mereduksi bias saat observasi. Tanpa double-blind, seorang observer cenderung hanya mengambil data yang sesuai dengan hipotesisnya… atau kepercayaannya. Terlebih, JREF menantang Emoto SATU JUTA DOLAR jika bisa membuktikan hipotesisnya itu dengan menggunakan double-blind. Ternyata… dia belum bisa tuh. Sebelumnya, gue pernah denger sih tentang JREF ini dari seorang teman. JREF ini emang berjanji memberikan $1000000 kepada siapapun yang bisa menjelaskan kejadian2 supranatural ke ranah sains. Belum ada yang berhasil tuh. Ada yang merasa tertantang? Di Indonesia kan banyak tuh film2 “penampakan” :-)

=========

Yach… begitu lah. Di era informasi seperti sekarang ini, kita mudah mengakses berbagai informasi. Tapi, sayangnya, buanyak banget yang ngawur. Ada yang tidak disengaja (karena terlalu cepat melompat ke kesimpulan tertentu tanpa menggunakan metode penelitian yang benar)… namun, banyak juga yang disengaja karena keuntungan yang bisa didapat dari penyebaran informasi itu. Misalnya: uang. Atau, di era demokrasi ini: Suara politik. Menjatuhkan lawan, dan sebagainya. Kalau nggak kritis. Kita bisa tertipu. Termasuk orang sekaliber Aa Gym sekalipun.

Lihat aja Da Vinci Code. Teori2nya mungkin ada yang bener. Tapi, tentu saja itu masih berlatar belakang hipotesis yang belum terbukti secara ilmiah. Namun, marketingnya jago banget. Dia bikin buku fiksi. Namun, dia bilang kalau semua latar belakang buku itu berdasarkan keadaan yang sesungguhnya. Gila. Emangnya yang neliti itu cuma si Dan Brown doang? Banyak kali. Cuma, mereka nggak melakukan hal yang sama dengan Dan Brown. Jadi, nggak bisa dapet jutaan dolar deh.

Salam kritis!



BISNIS APA YANG PASTI UNTUNG?
August 8, 2006, 9:12 am
Filed under: The way I see it

JUDIIIIIIIII

Ironis ya? Namanya judi… seharusnya ada resikonya. Tapi, bisnis judi itu sebenarnya hampir tidak ada resikonya… kalau tau beberapa prinsip penting dalam teori peluang. Apa tuh? Sok.. teruskan membaca…

Okay… bisnis judi biasanya didasari dengan prinsip untung-untungan. Jadi, ketika seorang pejudi berjudi, selalu ada peluang untuk menang (p) dan ada peluang untuk kalah (1-p). Hampir dalam setiap permainan dalam perjudian menggunakan prinsip ini.

Untuk mudahnya… sekarang kita ambil permainan dadu aja deh. Peluang pejudi menang 1/6. Peluang bandar menang 5/6. Tapi, kalau pejudi menang… bandar memberikan 400 kepada pejudi. Kalau bandar menang, bandar mendapatkan 100 dari pejudi.

Sekarang.. kita minta bantuan sama Microsoft Excel untuk melakukan simulasi perjudian.

Copy ini ke kiri atas tabel (A1):
=IF((RAND()*6)>1, 100, -400)

Copy itu ke baris2 bawahnya (A2, A3, A4, dst..) sampai 700 baris (A700).

Copy ini ke A701 (atau klik lambang sigma aja di atas):
=SUM(A1:A700)

Bagian A701 itu menunjukkan besar keuntungan yang didapat setelah 700 kali berjudi. Kalau A701 ini nilainya positif, berarti bandar untung. Kalau negatif, bandar rugi. Coba ketik asal2an di bagian manapun. Nanti nilai random itu akan berubah sendiri. Lakukan ini sebanyak mungkin. Berapa kali untung? Berapa kali rugi?

Barusan, gue melakukan itu sebanyak 30 kali. 30 KALI UNTUNG. DAN TIDAK PERNAH RUGI SATUPUN. Gila, ya?

Keren banget bisnis judi ini. Pelanggan boleh ganti2. Ada yang untung besar. Ada yang nggak pernah untung sama sekali. Tapi, yang pasti, BANDAR SELALU UNTUNG.

Mengapa bisa begitu? Itu karena jumlah sample yang banyak (700). Kalau cuma main 10 kali sih… bandar bisa aja rugi. Tapi, bisnis judi kayak gini kan bukan cuma 10 kali. 700 kali itu bisa dicapai dalam 7 jam. Jumlah sample yang banyak akan semakin mendekatkan hasil statistik dengan perhitungan peluang. Cuma itu kuncinya.

==============

Gimana pendapat lo tentang ini? Ada yang mau memulai bisnis judi? Hehehe… Gue sih… pengennya judi itu dilegalin aja. Khusus buat orang2 yang kaya aja. Di pulau seribu gitu. Kan keren tuh. Dipajakin yang gede. Lumayan buat nambah2in devisa negara. Wong pasti untung. Yang kaya gara2 korup kan banyak. Setidaknya, duit mereka nggak lari ke luar negeri. Tapi di dalam negeri aja. Lagi pula, dengan perhitungan peluang yang presisi… orang2 kaya itu nggak akan jadi miskin gara2 judi.