Filed under: The way I see it
Jumat, 20 Agustus 2006, gue ikut kuliah umum yang diselenggarakan oleh Bandung Society for Cosmology and Religion di 9231. Prof. Frans Magnis Suseno memberikan kuliah singkat dengan topik "Menalar Tuhan", yang diambil dari judul buku yang ia tulis. Dari judulnya ini, bisa terlihat bahwa Prof. Magnis berusaha untuk memasukkan konsep tuhan ke wilayah rasio. Tujuannya adalah menunjukkan bahwa rasio bisa mendukung iman mengenai adanya tuhan.
Secara keseluruhan, gue menilai bahwa kuliah ini tidak efektif. Prof. Magnis tidak menggunakan waktunya dengan baik. 38 menit untuk Pendahuluan. 13 menit bicara mengenai topik masalah. Dan 15 menit sisanya loncat ke topik evolusi yang menurut gue sudah keluar dari ranah filsafat. Terlebih, tidak disebutkan kenapa topik evolusi begitu penting dalam diskusi ini. Dari tiga pembagian kuliah itu, gue bisa mengambil kesimpulan tiap-tiap bagiannya adalah sebagai berikut:
0. Pendahuluan
Prof. Magnis berpendapat bahwa untuk menalar tuhan, kita tidak perlu sampai pada level pembuktian. Tidak perlu dibuktikan bahwa tuhan itu ada. Yang penting, kita dapat menunjukkan bahwa ada ruang probabilitas untuk keberadaan tuhan. Sisanya adalah iman.
Pada bagian ini, Prof. Magnis juga bercerita mengenai kondisi filsafat ketuhanan saat ini, aliran-aliran agama yang bermunculan, dan sebagainya. Secara khusus, gue meng-highlight pembicaraan mengenai sekte Heaven’s Gate, suatu sekte yang melakukan bunuh diri masal karena percaya bahwa ada sebuah pesawat ruang angkasa yang "parkir" di belakang sebuah komet. Prof. Magnis menganggap bahwa sekte ini tidak rasional sementara agama-agama besar seperti kristen, islam, dan lainnya masih rasional.
1. Menalar Tuhan
Prof. Magnis bercerita tentang filsafat ateisme modern. Aneh sih. Dia memasukkan Karl Marx juga di sini karena Marx mengatakan bahwa agama adalah sebuah ideologi. Kemudian dia juga membicarakan Sigmund Freud dengan neurosisnya, bahwa beragama adalah perilaku tidak dewasa. Jean Paul Sartre yang bertanya, "Apakah manusia masih memiliki kehendak bebas jika masih ada tuhan?" Dan satu lagi Karl Popper yang bicara mengenai falsifikasi. Satu keanehan lagi: Prof. Magnis menganggap falsifikasi ini adalah modern. Setahu gue, falsifikasi sudah ada sejak jaman Yunani kuno. Nama filsufnya, Epicurus. Cuma mungkin istilah falsifikasi itu baru dipopulerkan oleh Popper.
Sangat disayangkan, bahwa gue sama sekali tidak menangkap antitesis yang cukup jelas dari Prof. Magnis. Tidak disebutkan bagaimana pendapat Profesor mengenai ide-ide ateisme ini.
2. Evolusi
Dari omongan Prof. Magnis, gue menangkap bahwa ia percaya evolusi. Meskipun demikian, ia tidak mempercayai bahwa semuanya itu terjadi secara kebetulan. Secara singkat, mungkin dapat dibilang bahwa Prof. Magnis percaya Guided Evolution
Ya, evolusi yang diarahkan. Gue nggak ingin menanggapi hal ini sih. Karena masalah menjadi terlalu luas. Ini sudah masuk science, bukan filsafat.
=================
Gue melihat bahwa masalah utama dari kuliah ini, seperti masalah yang selalu terjadi ketika terjadi perdebatan mengenai tuhan di manapun, adalah bahwa Prof. Magnis tidak mengemukakan definisi tuhan yang dibahas di kuliah ini. Gue yakin bahwa setiap orang yang hadir saat itu memiliki ide yang berbeda-beda mengenai tuhan. Sehingga, jika tidak ada keseragaman definisi, akibatnya adalah setiap orang memiliki kesimpulan yang berbeda-beda pula.
Pada sesi tanya-jawab, gue mengambil kesempatan untuk bicara. Dan yang gue bicarakan serupa dengan yang gue tulis di atas. Pertama, tentang kuliah yang tidak efektif (topik utama hanya 13 menit) dan tidak jelasnya antitesis dari Prof. Magnis terhadap ide ateisme. Kemudian, gue mengkritik bahwa tidak adanya definisi yang jelas mengenai tuhan di kuliah ini. Dan terakhir, gue menunjukkan kontradiksi perkataan Prof. Magnis yang ada di pendahuluan: Pernyataan Prof. Magnis bahwa "kita tidak perlu membuktikan keberadaan tuhan" (lihat pendahuluan). Sampai di sini, gue nggak menyalahkannya. Tetapi, bagaimana dengan sekte Heaven’s Gate? Memang betul bahwa dia tidak bisa membuktikan bahwa ada UFO yang parkir di belakang sebuah komet. Tapi, kita juga tidak bisa membuktikan bahwa itu tidak ada. Keadaannya 1-1, seri. Sama dengan keadaan bahwa Prof. Magnis mempercayai adanya sorga/neraka. Dia tidak bisa membuktikan keberadaannya dan gue tidak bisa membuktikan ketidakberadaannya. 1-1 lagi. Jadi, kalau dibilang Heaven’s Gate itu irrational sementara kepercayaan Prof. Magnis tidak, menurut gue itu kontradiktif.
=================
Lucu ketika Prof. Djamaludin (dari astronomi) mengusulkan bahwa definisi tuhan adalah "sesuatu yang maha kuasa". Ini mah gampang dibantah. Bisa nggak tuhan bikin pedang yang bisa menembus segala sesuatu? Bisa nggak tuhan juga bikin perisai yang tidak bisa ditembus apapun? Bagaimana jika pedang itu ditusukkan ke perisai itu? Kalau tembus, berarti si pembuat perisai tidak maha kuasa. Kalau tidak tembus, berarti si pembuat pedang tidak maha kuasa. Kesimpulannya, karena "maha" itu berarti sempurna, secara matematika sederhana dapat ditunjukkan bahwa sesuatu yang maha kuasa itu tidak mungkin ada. Coba pikir, bisakah tuhan membunuh dirinya sendiri? Tentunya kalaupun ada Tuhan, kekuasaannya akan dibatasi oleh dirinya sendiri. Secara leksikal, tidak bisa dikatakan "maha".
================
Overall… diskusi ini rada garing. Karena yang ngomong para teis semua. Jadi nggak ada perdebatan yang cukup seru. (Btw, gue satu2nya mahasiswa yang bicara loh. Mana ni yang lain? Anak ITB sekarang payah2, ya?) Tapi gue senang. Sepertinya diskusi ini telah merangsang audience untuk berpikir lebih luas. Menalar Tuhan…. yah… boleh juga.