Senin, 6 Februari 2006, gue iseng-iseng buka mailing list ITB. Eh, taunya nemu tulisan seseorang dengan subjek “Kategori Ummat Islam”. Menurut gue, yang jadi masalah bukan bagaimana dia mulai mengategorikan. Tetapi, cara dia memberikan paragraf pendahuluan untuk pengategoriannya tersebut. Bunyinya adalah sebagai berikut:
| Kedatangan Rasulullah SAW adalah Rasul yang akhir, itu agama Tuhan yang paling sempurna, paling global, agama untuk semua etnik, semua kaum, semua bangsa. Walaupun begitu ketika zaman sudah jauh, masa sudah beredar, keadaan sudah berubah, maka agama yang sudah ditinggalkan Rasulullah SAW pada umatnya 1,500 tahun, mungkin agama ini sudah cacat. Dicacatkan oleh cinta dunia, dicacatkan oleh kejahilan, dicacatkan oleh setengah faham setengah tidak faham, dicacatkan oleh mazhab yang datang kemudian. Maka kalau kita kategorikan umat Islam hari ini, entah ada berapa banyak kategori. Tapi dapat kita sebut seperti ini, kerana Islam sudah Kategori ke-1. |
Menurut gue, tulisan ini sudah berbau offensive. Mengatakan bahwa agamanya adalah yang paling ini-paling itu di ruang publik yang notabene tidak semuanya muslim. Entah bagaimana cara menjelaskan kepada penulis email itu dan beberapa penghuni lainnya (yang punya kebiasaan serupa), bahwa email itu tidak berada di tempat yang tepat. Akhirnya, gue memilih cara dengan membuat email balasan. Tidak perlu menanggapi, tetapi membuat semacam parodi J. Subjeknya gue ganti menjadi “Kategori Ummat Atheis”. Ada beberapa kata-kata yang sengaja tidak gue ganti. Hanya mengganti “Islam” dengan “Atheis”. Tujuannya, supaya penulis merasa terserang dan kemudian menyadari bahwa ternyata yang dia lakukan tidak jauh berbeda (bahkan lebih parah – menurut gue) dari pada yang gue lakukan. Okay. Kalau mau tau apa yang gue tulis, sok aja mulai di baca tulisan gue di bawah ini:
Kategori Ummat Atheis
Senin, 6 Februari 2006
Wisnu O. P. S.
Setelah Atheis ditemukan. Terlihat bahwa Atheis adalah pilihan yang
paling global, untuk semua etnik, semua kaum, semua bangsa. Karena semua
orang bisa jadi “Nabi”-nya :p Siapapun bisa bikin konsep tentang keatheisan
itu sendiri. Jadi, dijamin, “agama” ini adalah “agama” yang paling global
Walaupun zaman sudah jauh, masa sudah beredar, keadaan sudah berubah, Atheis
tidak pernah cacat. Tidak cacat oleh cinta dunia, tidak cacat oleh
kejahilan, tidak cacat oleh setengah faham setengah tidak faham. Karena
seperti yang saya bilang tadi, semua orang bisa jadi “Nabi” Atheis. Jadi,
tidak ada yang berhak menjustifikasi bahwa suatu bentuk keatheisan itu
tidak benar (sudah cacat) dan sebagainya. Maka kalau kita kategorikan
umat Atheis hari ini, entah ada berapa banyak kategori.
Tapi, dapat kita coba sebagai berikut:
Kategori ke-1
Ngaku2 atheis. Tapi nggak ngerti atheis itu apaan. Mungkin karena dia hidup di lingkungan atheis aja (keluarga, dsb). Atau justru cuma cari sensasi. Beda sama orang lain. Argumennya kadang2 konyol. [Saya pernah mendengar argumen seperti ini: Kalau dua mobil berkecepatan sama, maka mobil yang satu akan melihat yang lain diam (gerak relatif). Nah. Karena Tuhan hidup dan Manusia hidup. Manusia juga melihat Tuhan sudah mati. Hahaha... argumen terkonyol yang pernah saya dengar]
Kategori ke-2
Orang yang mengaku Atheis setelah mendapat musibah. Kalau Tuhan ada, berarti
dia tidak adil terhadap dirinya. Padahal, dia diberi tahu kalau tuhan itu adil. Akibatnya, dia memilih untuk percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. (Yang begini sih… biasanya tinggal tunggu waktu, dia jadi theis lagi)
Yang ke-3,
Orang2 yang menjadi atheis setelah melihat dari sisi materialis (dari kacamata sains). Karena Tuhan tidak terdeteksi oleh Indra, maka -sesuai sains- ia dipercayai tidak ada. Selain itu, orang2 ini percaya bahwa alam ini memiliki hukum yang kekal, karena itu adalah landasan dari sains. Akibatnya, tidak ada ruang bagi Tuhan untuk melakukan interupsi. Sayangnya, materialis itu sendiri tidak kokoh sepenuhnya. Hal ini diterima untuk alasan praktis saja. Ditambah, penemuan saintifik bahwa alam ini probabilistik memperlemah argumen keatheisan ini. Orang2 seperti ini juga biasanya masih bisa melakukan ritual agamanya (islam, kristen, dsb). Di hatinya masih ada
sisa ketheisan.
Yang ke-4,
Orang2 yang menemukan argumen2 berbasis rasionalisme, bukan sekedar empirisme. Argumen ini berdasarkan self-contradiction dari definisi Tuhan itu sendiri. Misalnya, Tuhan didefinisikan sebagai “Yang Maha Kuasa”. Maka dapat dipertanyakan, apakah Tuhan bisa membunuh dirinya sendiri? Baik bisa ataupun tidak, kesimpulannya adalah sesuatu yang Maha Kuasa itu tidak mungkin. Orang2 seperti ini biasanya tinggal menemukan definisi Tuhan yang lebih baru lagi. Dengan definisi barunya, Ia bisa leluasa menjadi Theis kembali. Dia masih bisa shalat, bisa berdoa, dsb.
Kategori ke-5,
Orang2 yang secara spiritual sudah meninggalkan Tuhan. Wah.. kalau ini susah dijelaskan. Harus dirasakan. Nggak tau gimana rasanya. Ada yang merasa bahwa alam ini punya kekuatan sendiri. Energi Chi lah… apa lah… tapi bukan Tuhan. Tidak perlu disembah. Bukan tempat meminta, dsb. Pokoknya Atheis secara spiritual lah.
Yang ke-6.
Orang2 yang “membunuh” Tuhan. Baik Tuhan yang biasa diomongin oleh orang2 biasanya (Maha kuasa, dsb) maupun bentuk2 Tuhan lainnya (segala sesuatu yang dapat dijadikan pegangan hidup). Dia benar2 berusaha independen. Dirinya adalah Tuhan bagi dirinya sendiri. Tidak tergantung apapun. Melepaskan diri dari segala bentuk kemelekatan. Baik kemelekatan duniawi maupun kemelekatan spiritual kepada Tuhan. Dia sudah tidak berdoa lagi. Tidak perlu meminta2 karena Jiwanya sudah merasa penuh.
Yang ke-7 sampai ke-63,
Berbagai kombinasi dari kategori ke-1 sampai ke-6. Banyak juga
2^6-7.
hehe… Yah.. Kategori ini sebenarnya hanya bentuk ke-soktau-an Saya. Tapi, tidak apa2. Seperti yang Saya bilang tadi. Atheis tidak ada Nabinya. Jadi, ya.. bebas2 aja.
Piis…
Yach.. sekian aja. Terserah deh mau berpendapat apa. Hmm… kira-kira, gue kategori yang mana ya? Atau gue nggak masuk kategori yang manapun? Hmm… entah lah.
1 Comment so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
keren.. tapi menurut saya bayak orang atheis karena sains.. lebih tepatnya ke kategori yang ke-3.. tapi itu juga kesoktauan saya aja.. hehe..
bgsdwd. 09.14.08 @ 5:54 am